Sheirin's Blog

Periketanaman atau periketumbuhan?

Januari 25th, 2013 · No Comments

Anda mungkin sudah sangat familiar dengan kata perikemanusiaan, perikehewanan, apalagi HAM. Lalu adakah yang pernah bertanya kenapa jarang sekali periketanaman disebut-sebut? kenapa ya?padahal secara lahiriah tanaman juga mahluk hidup sama seperti hewan dan manusia. Ya, sebagai seorang agronom, saya merasa perlu untuk mempopulerkan kata ‘periketanaman’. Seperti halnya kita mencintai hewan dan manusia, berusaha memperlakukan keduanya dengan sehormat dan sebaik mungkin, maka jangan salah tanaman pun perlu kita perlakukan seperti itu. Sebagian orang mungkin berfikir, untuk apa peduli pada tanaman toh dia seperti benda mati, tidak bisa bicara. Saya katakan anda salah besar!tanaman itu bicara, tapi hanya pada mereka yang berusaha dekat dengannya, tanaman itu bicara tapi bukan dengan kata-kata tapi lewat ekspresi tubuhnya. Dr Norman E Borlag (seorang  pemulia tanaman Mexico penerima Nobel perdamaian) pernah berkata bahwa “ plants speak to men but only whisper: their voice can be heard by those who remain close to them.”

Seperti halnya kita, tanaman juga merasakan sakit saat ia kelaparan, saat daun dan batang tubuhnya kita sobek-sobek dan lukai, juga saat kita tidak memberinya minum. Mereka kesakitan sama seperti kita, hanya saja mereka tidak berteriak-teriak seperti kita. Jika anda pernah mempelajari tentang mekanisme tanaman menghadapi cekaman lingkungan, baik defisiensi hara, kekeringan, kebasahan, toksisitas hara tertentu, juga saat ia diserang hama maupun terkena penyakit, saya yakin anda akan sangat terpukau. Mereka para tanaman, saat kesakitan tetap berusaha untuk hidup dengan caranya sendiri, tidak meminta tolong pada tanaman lain apalagi pada kita. Sangat mandiri, itulah tanaman. Jika kita bisa lari bila ada bahaya, tanaman tidak pernah lari mau bahaya seperti apapun yang datang!dia setia menghadapi apapun ditempat dimana ia tumbuh maka disanalah ia akan mati.

Kenapa perlu periketanaman? jawabannya karena kita hidup dan membutuhkan mereka. Tanpa tanaman, apa yang anda bisa makan?tidak bisakah kita membalas budi baik mereka yang menghijaukan jalan-jalan?yang menyerap racun diudara efek dari kendaraan?yang memberi kita asupan nutrisi, dan yang membuat bumi ini indah dan begitu berwarna dan harum? Kelihatannya simple, tapi tanpa tanaman dan tumbuhan, we are nothing! Apakah anda sering dan merasa tidak bersalah menginjak-injak rumput dijalanan? iseng-iseng memotong daun dan bunga yang ada dijalan?atau anda adalah orang yang termasuk pemalas dalam menyiram pot bunga dan tidak memberinya pupuk? seringkah anda melihat didepan gedung-gedung megah tanaman yang ada tumbuh tidak normal?kurus dan tidak terawat?atau anda pernah melihat bagaimana dipasar sayuran diperlakukan seenaknya?diikat kencang-kencang, ditumpuk-tumpuk, dilempar-lempar, bahkan ditindih saat pengangkutan berlangsung??dimannaaaa periketanaman kita wahai manusia??? Seandainya kita adalah tanaman, maukah kita diperlakukan seperti itu? Tentu tidak kaan?

Saya yakin sekali, bila kita sudah mampu untuk menyayangi tanaman dengan sebaik mungkin, maka kita pasti lebih bisa menyayangi mereka yang bernyawa. Bila anda tau, betapa kami di agronomi diajarkan untuk mencintai tanaman, berkomunikasi dengan mereka (baca:dekat), kami sangat sedih bila melihat orang-orang umumnya yang suka seenaknya pada tanaman. Kami para agronom sejati masih bisa menerima orang menganggap profesi sebagai insan pertanian itu rendah, terserah saja itu hak mereka, tapi kami tidak bisa menerima bagaimana buruknya perlakuan orang-orang terhadap tanaman. Dijalan-jalan anda mungkin sering melihat kalau pepohonan sering dijadikan area paku-memaku spanduk dsb. Ironi sekali, memangnya mereka pikir pohon itu papan pengumuman apa!!

Lihatlah mereka yang dekat dengan tanaman, para petani, peneliti, entah apapun korelasinya itu, penulis merasa jiwa-jiwa mereka selalu diliputi oleh ketenangan, kebersahajaan. Pernah saudara penulis menceritakan tentang herannya beliau kepada salah seorang temannya. Beliau cerita, temannya rela menjadi petani didesa terpencil dimasa tuanya padahal ia merupakan konglomerat semasa mudanya, rumahnya banyak dan dia termasuk orang yang kaya raya. Lalu sang teman tersebut berkata, karena saya suka bertani, bertani membuat saya merasa lebih senang dan tenang. Ya, dibeberapa rumah sakit pun, terapi dengan menggunakan tanaman dinilai cukup mampu untuk mengatasi ke-stres-an seseorang terhadap rasa sakitnya. Tidakkah anda merasa bahwa ini semua ada korelasinya?seperti yin dan yan, semuanya saling melengkapi, jika anda baik pada tanaman maka tanaman pun akan baik kepada anda, percayalah. Mereka hidup sama seperti kita..

→ No CommentsTags: Uncategorized

Plant Breeding Crew, Little Breeder!

Januari 23rd, 2013 · No Comments

‘Plant breeding crew’ merupakan sebuah kalimat yang tertera di jaket mahasiswa yang tergabung dalam komunitas lab. pemuliaan tanaman. Tentu saja, kami concern pada hal-hal yang menyangkut breeding pada tanaman. Little breeder, itu adalah julukan yang saya berikan. Sebelum menjadi breeder yang sesungguhnya, tidak ada salahnya menjadi little breeder terlebih dulu :).

Sejujurnya saya pribadi tidak menyangka akan mengambil topik penelitian tentang pemuliaan. Sejak awal tidak ada niatan sama sekali. Tapi takdir menghanyutkan saya ke arah ini. Awalnya, biasa saja, saya hanya berorientasi yang penting cepet lulus, yang penting cepet lulus. Seperti apa yang pepatah katakan, tak kenal maka tak sayang. Begitu pula lah kondisi saya ketika baru memasuki dunia breeder di agh. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan suka dan tertarik akan dunia breeding itu pun bersemi. Mulai merasakan atmosfer yang nyaman, bertemu dengan banyak kakak2 pascasarjana ternyata membuat saya jadi belajar banyak sekali. Ya, buat saya pribadi, keberadaan saya dan teman2 S1 itu mirip dengan ‘anak bawang’. Tapi menjadi anak bawang ternyata menyenangkan juga, bergabung dengan komunitas breeder, kami mahasiswa S1 benar2 merasa dinaungi. Tidak ada gap antara S1, S2, S3 maupun para dosen, yang saya rasakan semuanya membaur seperti satu keluarga. Setiap hari saya selalu merepotkan kakak2 S2, bertanya macam2 dan selalu minta tolong ini dan itu, tapi sampai sejauh ini mereka begitu welcome. Padahal boleh dikatakan baru kenal sebentar, tapi mereka begitu totalitas membantu ketika adek2 nya yang kesulitan. Benar-benar seperti layaknya seorang kaka :). Bertukar pikiran dengan kakak2 S2 itu memang berbeda rasanya, ada hal-hal baik pengetahuan maupun keilmuan yang jauh lebih dalam, sehingga saat diskusi pun jadi menyenangkan. Intinya bertanya kepada yang lebih tau itu lebih puas daripada ketika kita bertanya kepada orang yang levelnya mungkin sama dengan kita.

Plant breeder, selalu bermain-main dengan populasi. Maka jangan heran, bila kamu mengambil penelitian di bidang ini, tanaman yang kamu tanam bisa mencapai ribuan, seribu itu angka minimal biasanya. Bermain dengan populasi tentunya pekerjaannya jadi padat karya. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan, orang-orang di lab pemuliaan itu cenderung lebih gotong royong dan saling membantu. Ada saatnya kamu merasa sendiri, tapi di lab pemuliaan, kamu akan lebih banyak merasa kamu tidak sendiri :). Kapan kamu akan menemukan orang-orang yang rela hujan-hujanan membantu mu menanam untuk penelitian mu?dimana kamu dapat menemukan orang-orang yang rela ke tempat yang jauh hanya untuk membantu penelitianmu?padahal mungkin kamu baru kenal dia?yap, hanya di plant breeding crew itu semua ada.  Ga promosi loh, but this is a fact. Ngarep nih, semoga bisa lanjut studi S2 tentang breeding juga :), aamiin.

→ No CommentsTags: Uncategorized

Bogor, Kota Indah, Surga bagi Cendawan

Januari 20th, 2013 · No Comments

Siapa yang meragukan keindahan kota bogor?Udaranya yang sejuk (baca:musim hujan), pepohonan yang rimbun menjuntai-juntai begitu indah hingga ke tengah kota. Pemandangan yang luar biasa manakala pertama kali menapakan kaki di kota ini 6 tahun  lalu. Tidak pernah bosan melihat hijaunya pepohonan dan jalan-jalan bertebing di sekitar puncak :). Tentunya bukan saya saja yang merasa kota ini indah, turis-turis dari manca negara pun berfikir demikan, bahkan penduduk jakarta pun menjadi pelanggan setia daerah puncak setiap tahun baru tiba. Yap mereka berbondong-bondong bak semut yang mengantri mencari makan dijalan. Mereka rela bermacet-macet ria setiap tahunnya guna melepas stress dan menikmati indahnya kota ini saat perayaan tahun baru tiba.

Rupanya bogor bukan hanya surga bagi manusia, dengan RH yang cukup tinggi berkisar antara 85-90%. Kota ini juga merupakan surga bagi para cendawan :). Cendawan apa sih yang tidak bisa tumbuh dikota ini?ayo silakan cari :D. Saat pertama kali mengontrak sebuah rumah bersama teman-teman didekat area kampus tercinta. Penulis agak kurang nyaman dengan letak perabot rumah tangga seperti meja, lemari, sofa bahkan tempat tidur yang sengaja diberi jarak dengan dinding oleh pemilik rumah. Katanya untuk menghindari jamuran. Saat itu penulis berfikir, uh ibu ini lebay, jadi ga cantik kan  tata ruangnya kalo perabotnya ditata begitu (maklum gini-gini saya hobi mendesain). Beberapa bulan pertama penulis tinggal di tempat kontrakan, so far so good, tidak terlihat ada jamur yang mengganggu perhatian. Akhirnya penulis mulai berani menggeser dan menggeser barang-barang kesana dan kesini. Penulis juga menyimpan sepatu dan buku-buku begitu saja dikerdus. Semuanya masih baik-baik saja, hingga musim penghujan tiba. Yap..intensitas hujan yang tinggi dan cenderung stabil membuat suasana menjadi begitu lembab dan dingin. Tembok-tembok pun terasa anyep (bahasa jawa) artinya tidak basah juga tidak kering.

Dan suatu hari penulis pun shock dengan box sepatu penulis yang fuull dijamurin. Oh noo..itu sepatu kulit mahal kesayangan penulis, dan raib sudah karena jamur dan kombinasi binatang-binatang kecil lainnya. Sediih, merasa menyesal pernah tidak mendengarkan ibu kos. Penulis pikir, itu sepatu ga akan kenapa-kenapa karena disimpan dibox khusus dari plastik yang tertutup rapat, tapi kenapa bisa jamuran?husut dihusut KA didalam box sepertinya cukup tinggi. Seorang teman menyarankan untuk membeli dehumidifier, akhirnya penulis mencobanya. Awalnya agak ragu dehumidifier yang sekotak besar itu beneran bisa nyerap kelembaban. Taraaam penulis takjub ketika sebulan kemudian dehumidifier yang disimpan dalam box sepatu itu sudah penuh air, ada kali ya 1 liter. Beuh, dikotak sepatu kecil itu saja airnya ada sebanyak itu padahal kotak sepatunya jarang dibuka. Pantas saja jamur subur makmur dikota ini.

Hidup dibogor bisa boros banget tau ga, hal-hal kecil seperti dehumidifier itu kalo dihitung-hitung ngabisin uang juga. Bayangkan sebulan-2 bulan sekali harus ganti karena sudah penuh. Itu untuk satu box, apa kabarnya box yang lain? Yang paling bikin sakit hati itu shinai (pedang bambu), peralatan kendo yang satu itu udah mah harganya lumayan mahal buat ukuran mahasiswa, belinya jauh di jepang, harus dirawat bener-bener karena itu sakral bagi kendoka, daaan gara-gara ini bogor yang lembab, tu shinai kesayangan ku jamuran. Wooww, itu shinai beda kan ya sama sepatu yang bisa dimasukin ke box, dia itu panjang, bag nya aja ga ada tu yang dari plastik. Semua shinai bag terbuat dari kain. Sangat heboh ketika saya pertama kali melihat tu shinai jamuran, gimana ga heboh kalo ketauan senpai bisa malu setengah mati -.-”..huft. Padahal itu baru beli loh 3 bulan lalu, sakit hatii. Kalo jamurnya cuma nempel sekali doang sih mending, bisa saya amplas dan selesai. Tapi, jamurnya ada lagi ada lagi, masa sih saya harus pake fungisida yang buat taneman ke shinai, wow apa kata dunia. Yang jelas shaka alias shinai saya ga boleh dipanasin karena bambunya bisa melengkung, jadi kemaren saya mengambil ide gila yaitu memplisturnya. Harapannya tu jamur kaga balik-balik lagi..tapiii tau ga dia masih balik lagi -.-”. Hopeless niih, alamat ganti shinai baru yang harganya ratusan ribu tea.

Itu kisah ku dengan para tentara cendawan bogor yang menyebalkan. Ada lagi yang lucu, diatap kamar ku pun bahkan tumbuh sejenis jamur tiram. LOL. sekalian aja kamer ku jadi kebun jamur. Parah banget parah banget, jangan salah loh ya, saya tergolong paling rajin dan rapih dikosan, jadi tu jamur ada bukan karena saya malas, tapi memang dia tengil. Menyedihkan memang berhadapan dengan jamur >.<.

→ No CommentsTags: Uncategorized

Berkunjung ke Tempat Pembuatan Keiko gi dan Hakama

Januari 19th, 2013 · 4 Comments

Jeeng, jeeeng..enk ink eeenk :D. Lamonyo ambo tak posting, hehe. Yap, disibukkan dengan berbagai hal juga karena minimnya pulsa ngenet ternyata mempengaruhi sangat nyata jumlah postingan di blog (:D, alibi banget nih). Okeyy, saat ini saya akan menceritakan pengalaman saya berkunjung ke salah satu tempat pembuatan keiko-gi dan hakama untuk kendo di indonesia. Seperti pernah saya jelaskan pada postingan sebelumnya, bagi seorang beginner di kendo, terutama di dojo JJS. Untuk dapat mengenakan baju kebangsaan kendo (baca:kendo-gi dan hakama), kamu harus menempuh latihan dasar terlebih dahulu selama 6 bulan, kemudian harus mengikuti grading and then baru kamu boleh pake kendo-gi dan hakama. Sebuah perjuangan panjang memang, bahkan seorang teman beginner pernah berkata,”finally, kita bukan lagi beginner, tapi junior (efek pake kendo-gi dan hakama)”, hehe. Sesuatu yang didapatkan dengan kerja keras memang akan lebih dihargai bukan.

Di indonesia yang memproduksi kendo-gi dan hakama itu tidak ada, jika pun ada toko olahraga yang menjual produk tersebut itu pasti import. Yap, seragam kebangsaan kendo dan aikido yang satu ini memang langka dipasaran. Coba saja kalau kamu ga percaya, ngupek-ngupek sebogor buat nyari baju ini, dijamin ga bakal ketemu, haha ya iyalah orang penulis sudah pernah mencobanya sendiri, hihi :D*poor me. Langkanya kendo-gi dan hakama menyebabkan kendoka indonesia lebih sering membeli produk ini langsung dari jepang baik saat mereka pergi kesana maupun nitip ke sensei-sensei yang asli jepang, tidak jarang juga beli online sih, tappiii beli online itu ruginya, kamu bisa sakit hati sama ongkirnya yang bisa nyampe separuh harga produknya sendiri. So, buat kamu-kamu para beginner and masih mahasiswa kaya penulis, hunting pembuat keiko-gi dan hakama itu adalah hal yang patut dicoba :).

Sampai saat ini di indonesia, satu-satunya pembuat keiko-gi dan hakama yang penulis tau hanya baru ibu seiko. Beliau orang jepang yang sudah menetap sekitar 43 tahun di indonesia, so jangan kaget kalo bahasa indonesianya bagus banget :). Salut deh sama beliau. Yah gimana ga kagum, seperti halnya orang jepang senang bila melihat orang indonesia belajar bahasa jepang, saya juga sangat senang bila melihat mereka berusaha menggunakan bahasa indonesia saat berjumpa dengan saya, rasanya itu sesuatu banget :). Ngomong-ngomong apa sih hakama dan keiko-gi itu?sampai lupa menjelaskan, hehe. Hakama itu  pakaian tradisional Jepang yang biasa digunakan dalam seni beladiri seperti Aikido, Kendo, Jujutsu, dan Kyudo. Hakama biasa dikombinasikan dengan gi (baju) tertentu tergantung jenis bela dirinya. Misalnya, gi untuk kendo desainnya akan beda dan dinamakan kendo-gi. Intinya sih jenis gi, dinamakan dan didesain sesuai dengan keperluan beladiri tersebut. Menurut penuturan bu seiko, gi nya kendo dan gi nya aikido berbeda pada beberapa segi.Yah, kembali lagi tergantung keperluan kan.

Mengenakan baju kebangsaan itu memang sesuatu yang sangat  “wah”  pada mulanya, tapi semua itu harus diimbangi dengan sikap, perilaku dan kemampuan bermain kendo yang tentunya harus lebih baik dari sebelumnya :). Semangat para juniooor :)!!!

→ 4 CommentsTags: Uncategorized

Pecah Buah Pada Tomat

Desember 22nd, 2012 · 1 Comment

Pecah Buah (Fruit Cracking)

Kualitas tomat yang dikonsumsi segar sangat bergantung pada penampilannya (warna, bentuk, ukuran, kemulusan, serta mengkilap atau tidaknya kulit buah). Kualitas tomat juga dapat dinilai dari segi kerenyahan, tekstur, bobot kering, rasa serta kandungan zat gizinya. Pecah buah merupakan salah satu masalah serius pada tomat karena dapat mengurangi kualitas buahnya. Menurut Ghebremariam (2005) pecah buah terbagi menjadi beberapa tipe yaitu fruit bursting, radial cracking, concentric cracking serta cuticle cracking (russeting). Menurut Dorais et al. (2001) umumnya, pecah buah berhubungan dengan kecepatan perpindahan air dan gula ke dalam buah saat elastisitas kutikula dan resistensi kulit buahnya melemah selama periode pemasakan.

Banyaknya kultivar tomat yang tidak resisten terhadap pecah buah, dilaporkan merupakan salah satu penyebab utama yang memperparah kondisi pecah buah (Dorais et al., 2001). Disamping sensitivitas genetik terhadap pecah buah, jenis tanah serta RH juga mempengaruhi terjadinya pecah buah (Simon, 2006). Beberapa faktor lain yang dilaporkan menjadi penyebab terjadinya pecah buah yaitu pruning pada daun dan buah, kelembaban tanah, kelembaban udara, cahaya dan suhu (Maboko, 2006). Masarirambi et al. (2009) melaporkan bahwa pecah buah biasanya terjadi dengan cepat ketika terdapat banyak air dan suhu yang tinggi, khususnya terjadi ketika memasuki periode stres. Salah satu contoh pecah buah pada tomat yaitu radial cracking (Gambar 1) dan concentric cracking (Gambar 2).

 

Gambar 1. Radial Cracking pada tomat, tanpa infeksi sekunder.

Sumber foto: Ronald French, http://sickcrops.tamu.edu

 

Gambar 2.Concentric cracking pada tomat, Area yang hitam merupakan hasil infeksi sekunder oleh Alternaria sp.

Sumber foto: Ronald French, http://sickcrops.tamu.edu.

Pengendalian pecah buah memainkan peranan yang penting untuk mengurangi kerugian ekonomi di lapang. Pecah buah dapat dikendalikan dengan menggunakan kultivar yang tidak mudah pecah sekalipun terjadi ketidakseimbangan air dan hara (Cline and Trought, 2007; Kennely, 2009). Young (1959) melaporkan bahwa,pecah buah tipe radial cracking disandi oleh dua pasang gen mayor, yaitu cr cr dan rl rl. Resistensi pecah buah ditemukan berasosiasi dengan warna merah muda pada buah, banyaknya jumlah buah pertanaman, jumlah lokus per buah, diameter buah serta teknik budidaya.

Cline dan Trought (2007) melaporkan bahwa pemberian GA3 berpengaruh positif terhadap penambahan ketebalan epidermis dan lapisan kutikula dari buah yang pada akhirnya mempengaruhi resistensi terhadap pecah buah. Yildirim dan Koyuncu (2010) menambahkan bahwa pemberian GA3 sebelum panen juga dapat menurunkan index pecah buah pada cherry. Beberapa cara lain yang dapat digunakan untuk mengendalikan pecah buah pada tomat yaitu (a) memanen buah sebelum tomat terlalu masak (Cheryld et al.,1997), (b) menggunakan teknik budidaya yang rendah paparan suhu dan cahayanya (Maboko, 2006), (c) pemasangan ajir pada tomat (Cheryld et al.,1997), serta (d) meminimalisir terjadinya fluktuasi air tanah (Peet dan Willlits, 1995).

Daftar Pustaka

Ghebremariam, T.T. 2005.Yield and Quality Response of Tomato and Hot Pepper to Pruning.Disertasi.Faculty of Natural and Agricultural Sciences, University of Pretoria. Pretoria. 138 p.

Dorais, M., A.P. Papadopoulos, and A. Gosselin. 2001. Greenhouse tomato fruit cuticle cracking. Horticultural Review 30:163-184.

Maboko, M.M. 2006. Growth, Yield and Quality of Tomatoes (Lycopersicon esculentum Mill.) and Lettuce (Lactuca sativa L.) as Affected by Gel-Polymer Soil Amendment and Irrigation Management.Dissertation.Faculty of Natural and Agricultural Sciences, University of Pretoria. Pretoria. 104 p.

Masarirambi, M.T., N. Mhazo,T.O. Oseni and V.D. Shongwe. 2009. Common physiological disorder of tomato (Lycopersicon esculentum) fruit found in Swaziland. J. Agric. Soc. Sci.5:123-127.

Simon, G. 2006. Review on rain induced fruit cracking of sweet cherries (Prunus avium L.),its causes and the possibilities of prevention. Int. J. Horticult. Sci. 12(3): 27-35.

Cline, J.A.,and Trought M. 2007. Effect of gibberellic acid on fruit cracking and quality of bing and sam sweet cherries. Can. J. Plant Sci.87(3): 545-550.

Kennely, M., 2009.Tomato Leaf and Fruit Diseases and Disorders.Kansas State University Agricultural Experiment Station and Cooperative Extension Service.http://www.ksre.ksu.edu [03 Maret 2012]

Young, H.W. 1959. Inheritance of fruit cracking in a Lycopersicon esculentum cross. Makalah. Ohio State University: 207-210.

Yildirim, A.N., and F. Konyucu.2010. The effect of gibberellic acid applications on the cracking rate and fruit quality in the ‘0900 Ziraat’ sweet cherry cultivar. African Journal of Biotechnology 9(38):6307-6311.

Cheryld, L.,W. Emmons, and J.W. Scott. 1997. Environmental and physiological effects on cuticle cracking in tomato. J. American. Soc. Hort. Sci.122:797-801.

Peet, M.M and Willits, D.H. 1995. Role of excess water in tomato fruit cracking. HortScience 30: 65-68.

→ 1 CommentTags: Uncategorized